Pengaruh Aktivitas Manusia Terhadap Keanekaragaman Hayati di Laut

  • Bagikan
Foto : Imel Aguswidari / Keanekaragaman hayati di laut merupakan aset penting bagi ekosistem dan kehidupan manusia.

KARYA ILMIAH, TOPIKBERITA.CO – Keanekaragaman hayati di laut merupakan aset penting bagi ekosistem dan kehidupan manusia. Namun, seringkali aktivitas manusia yang semakin meningkat, seperti penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan, pencemaran, dan pembangunan pesisir, telah memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap keberadaan biota laut. Kerusakan ini tidak hanya mengancam spesies tertentu tetapi juga mengganggu keseimbangan ekosistem secara keseluruhan

Salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati adalah eksploitasi sumber daya laut yang berlebihan. Metode penangkapan ikan yang merusak, seperti penggunaan bahan peledak dan racun, serta pencemaran limbah industri dan domestik, telah menyebabkan kerusakan habitat penting seperti terumbu karang dan mangrove. Hal ini berkontribusi pada hilangnya spesies dan menurunnya produktivitas ekosistem.

Dampak dari aktivitas manusia ini tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut untuk mata pencaharian mereka. Jika tidak ditangani dengan baik, kerusakan ini dapat mengancam keberlangsungan hidup nelayan dan komunitas pesisir lainnya, sehingga penting untuk menerapkan praktik pengelolaan yang berkelanjutan demi melindungi keanekaragaman hayati laut.

Pembahasan

Aktivitas manusia telah menjadi salah satu penyebab utama kerusakan ekosistem laut global. Ekosistem laut, termasuk terumbu karang, mangrove, dan padang lamun, merupakan habitat bagi ribuan spesies tumbuhan dan hewan yang unik dan beragam. Namun, berbagai praktik manusia seperti pencemaran limbah, penangkapan ikan ilegal, reklamasi pantai, dan polusi plastik telah mengganggu keseimbangan ekosistem laut.

Pencemaran limbah adalah salah satu ancaman terbesar bagi keanekaragaman hayati laut. Limbah domestik dan industri yang dilepaskan ke laut dapat menyebabkan polusi kimia yang beracun bagi organisme laut. Penelitian menunjukkan bahwa limbah plastik telah menjadi masalah serius, dengan lebih dari 100 juta ton limbah plastik yang masuk ke laut setiap tahunnya (Fernández, 2021).

Salah satu dampak terbesar dari aktivitas manusia adalah overfishing atau penangkapan ikan berlebihan. Dalam beberapa dekade terakhir, banyak populasi ikan yang mengalami penurunan drastis akibat praktik penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan. Penangkapan spesies dalam jumlah besar tanpa mempertimbangkan waktu reproduksi telah menyebabkan ketidakseimbangan dalam rantai makanan laut.

Spesies predator puncak seperti hiu dan tuna, misalnya, berada pada ambang kepunahan di beberapa wilayah laut akibat tekanan berlebihan dari aktivitas penangkapan ikan komersial. Penangkapan ikan illegal oleh kapal penangkap ikan Tiongkok telah diketahui melakukan praktek shark finning, membunuh lumba- lumba, dan membunuh paus pembunuh palsu, sehingga mengancam keanekaragaman hayati laut lepas (Andini, 2022).

Selain penangkapan ikan yang berlebihan, pencemaran laut juga merupakan ancaman signifikan terhadap keanekaragaman hayati laut. Pencemaran dari limbah industri, pertanian, dan rumah tangga, seperti bahan kimia berbahaya, minyak, dan plastik, merusak habitat alami organisme laut.

Sampah plastik, khususnya, menjadi permasalahan besar di banyak wilayah pesisir. Banyak spesies laut, seperti penyu dan burung laut, sering kali terperangkap atau salah mengonsumsi sampah plastik yang mengakibatkan kematian mereka. Masalah polusi plastik di laut telah menjadi permasalahan serius. Sampah plastik dapat dimakan oleh hewan-hewan laut dan menyebabkan keracunan.

Penelitian menunjukkan bahwa polusi plastik juga dapat mempengaruhi indeks keanekaragaman spesies di ekosistem laut contoh kasus yang relevan adalah penelitian yang dilakukan di Indonesia tentang masalah sampah plastik di kota-kota besar yang berada di daerah pesisir. Kurangnya sistem pengelolaan sampah di kota- kota besar menjadi contributor utama terhadap masalah sampah laut di Indonesia (Sianturi,  2024).

Pencemaran  laut  akibat  limbah  domestik,  industri,  dan pertambakan juga merupakan penyebab utama degradasi ekosistem laut. Limbah plastik, minyak, dan zat kimia lainnya dapat membunuh mikroorganisme dasar laut yang vital bagi rantai makanan laut (Rachman, 2024). Pencemaran ini bukan saja berdampak pada Keanekaragaman hayati tapi juga pada kualitas air laut yang digunakan oleh masyarakat.

Aktivitas manusia di kawasan pesisir seperti pembangunan hotel, pelabuhan, dan reklamasi lahan juga memengaruhi ekosistem laut. Pembangunan di wilayah pesisir sering kali merusak habitat alami seperti hutan bakau dan padang lamun yang berfungsi sebagai tempat berkembang biak dan perlindungan bagi banyak spesies laut.

Akibatnya, banyak spesies yang kehilangan habitat alaminya dan tidak mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan ini, yang mengakibatkan penurunan populasi. Melindungi keanekaragaman laut lepas tentu akan sangat mempengaruhi keberlanjutan hidup manusia dan bumi secara keseluruhan. Analisis sistemik tentang dampak antropogenik terhadap Laut, lingkungan hidup, dan sistem bumi dalam konteks sistemik sangatlah penting. Riset oleh (Richardson et al. 2023).

Reklamasi pantai biasanya dilakukan untuk tujuan pembangunan, tetapi proses ini dapat menyebabkan hilangnya habitat alami dan mengganggu struktur ekosistem laut. Reklamasi pantai juga dapat menyebabkan sedimentasi dan erosi yang berdampak pada stabililtas terumbu karang dan mangrove (Hidayat, 2020).

Misalnya, jika reklamasi pantai dilakukan tanpa perencanaan yang matang, maka dapat menyebabkan kerusakan terumbu karang dan mangrove yang berdampak pada keanekaragaman hayati laut. Oleh karena itu, penting untuk melakukan survei dan analisis lingkungan sebelum melakukan reklamasi pantai. Strategi Konservasi untuk menjaga keanekaragaman hayati laut, kita perlu melakukan konservasi habitat dan menghindari praktek-praktik yang merusak ekosistem laut. Restorasi habitat dan perlindungan terhadap spesies langka sangatlah penting agar keanekaragaman hayati laut tetap terjaga.

Kesimpulan

Aktivitas manusia memiliki dampak signifikan terhadap keanekaragaman hayati di laut. Pentingnya melestarikan ekosistem laut tidak hanya untuk menjaga keseimbangan ekologis tetapi juga untuk mempertahankan biodiversitas laut yang beragam.

Langkah-langkah preventif harus diambil untuk menghindari kerusakan ekosistem laut, antara lain dengan meningkatkan edukasi masyarakat tentang pentingnya melestarikan laut, meningkatkan regulasi dan penegakan hukum terhadap praktek-praktek ilegal, serta melakukan konservasi habitat laut secara intensif.

Oleh karena itu, penting untuk mengambil tindakan preventif dan rehabilitatif untuk menjaga kelestarian ekosistem laut. Melalui pendekatan holistik yang melibatkan masyarakat lokal, pemerintah, dan organisasi internasional, kita dapat menghemat dan melestarikan keanekaragaman hayati laut demi masa depan generasi mendatang.

Referensi

Andini, R. (2022). Konservasi Lingkungan Berbasis Ekologi Integral Perspektif Al- Qur’an (Doctoral dissertation, Institut PTIQ Jakarta).

Sianturi, A. R., Simanjuntak, P. A., Rapiah, A. Z., & Harefa, M. S. (2024). Faktor Pemicu Pencemaran Kualitas Air Sungai Deli Kota Medan. Mandub: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora, 2(1), 19-27.

Fernández-Bellon, H., Rodon, J., Fernández-Bastit, L., Almagro, V., Padilla-Solé, P., Lorca-Oró, C., … & Vergara-Alert, J. (2021). Monitoring natural SARS- CoV-2 infection in lions (Panthera leo) at the Barcelona Zoo: Viral dynamics and host responses. Viruses, 13(9), 1683.

Hidayat, F. I. (2020). Dampak Reklamasi Pantai dan Tambang Pasir Terhadap Ekosistem Laut dan Masyarakat Pesisir. Departemen Teknik Sistem Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin.

Richardson, K., Steffen, W., Lucht, W., Bendtsen, J., Cornell, S. E., Donges, J. F.,

… & Rockström, J. (2023). Earth beyond six of nine planetary boundaries.

Science advances, 9(37), eadh2458.

Rachman, R. M., Betaubun, R. J., Serang, R., Sriyani, R., Putri, T. S., Rantererung,

C. L., & Apalem, D. R. (2024). Pencemaran Air. Tohar Media.

  • Bagikan