Kerusakan Habitat Ancaman Serius Bagi Keberlangsungan Hidup Satwa

  • Bagikan
Foto : Ikbal Danuarta / Kerusakan Habitat Ancaman Serius Bagi Keberlangsungan Hidup Satwa.

KARYA ILMIAH, TOPIKBERITA.CO – Indonesia menempati urutan ke-15 dari negara terluas di dunia. Terdapat kurang lebih 17.000 pulau di Indonesia, dengan 16.056 di antaranya telah dibakukan dan diserahkan ke PBB. Luas daratan Indonesia adalah 1.916.862,20 km2, dengan 38 provinsi yang mencakupnya.

Luas tersebut adalah 3,2 kali lebih besar daripada negara terluas di Eropa Timur yaitu ukraina, 1,9 kali lebih besar daripada negara terluas di Eropa Selatan yaitu yunani, 4,3 kali lebih besar daripada negara terluas di Eropa Utara yaitu swedia, dan 4 kali lebih besar dari negara terbesar di Eropa Barat yaitu perancis. Adapun auas perairan pedalaman dan kepulauan Indonesia adalah 3.110.000 km2, dengan 108.000 km panjang garis pantai.

Kerusakan habitat merupakan salah satu penyebab utama hilangnya tempat tinggal satwa liar. Ketika habitat alami mereka dirusak atau dihancurkan, banyak satwa tidak dapat menemukan alternatif yang sesuai untuk bertahan hidup. Satwa liar sangat bergantung pada alam untuk menyediakan sumber makanan yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup. Ketika habitat alami mereka rusak, ketersediaan makanan menjadi sangat terbatas, yang berdampak negatif pada kehidupan mereka.

Oleh karena itu, sangat penting menjaga kelestarian lingkungan baik lingkungan biotik maupun abiotik. Ketika habitat alami mereka dihancurkan atau diubah secara drastis, maka akan ada banyak spesies makhluk hidup yang kehilangan tempat tinggal, sumber makanan, dan lokasi berkembang biak yang diperlukan untuk bertahan hidup.

Foto : Ikbal Danuarta / Kerusakan Habitat Ancaman Serius Bagi Keberlangsungan Hidup Satwa.

Pembahasan

Kerusakan habitat merupakan salah satu penyebab utama hilangnya keanekaragaman hayati. Kerusakan habitat mengakibatkan hilangnya tempat tinggal dan sumber makanan bagi banyak spesies. Misalnya, deforestasi mengurangi jumlah pohon yang menjadi habitat bagi berbagai satwa.

Penebangan pohon secara massal untuk keperluan industri kayu atau pembukaan lahan untuk pertanian menyebabkan hutan yang dulunya menjadi rumah bagi berbagai spesies satwa liar hancur. Banyak satwa yang bergantung pada hutan tersebut untuk makanan, perlindungan, dan tempat berkembang biak (Setiawan, 2022).

Penggunaan lahan untuk keperluan pertanian dan perkebunan dalam skala besar sering kali melibatkan penggundulan hutan dan pengeringan lahan basah.

Satwa liar yang bergantung pada ekosistem tersebut kehilangan habitatnya dan harus mencari tempat tinggal baru yang mungkin tidak menyediakan kebutuhan dasar mereka. Kerusakan habitat sering kali menyebabkan fragmentasi, di mana habitat alami terpecah menjadi bagian-bagian kecil yang terisolasi.

Seringkali, hewan tidak dapat beradaptasi dengan cepat ketika mereka kehilangan habitatnya sebelumnya. Situasi ini diperburuk oleh kekurangan makanan yang sesuai dengan diet alami mereka. Menurut Junaiddin (2022) jika spesies tidak memiliki sumber makanan yang tepat, mereka cenderung mengalami penurunan kesehatan dan angka kelahiran yang rendah, yang mempercepat kepunahan.

Hewan yang hidup di lingkungan yang tidak ideal mengalami stres jangka panjang. Stres ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh mereka, menjadikannya lebih rentan terhadap penyakit.

Satwa yang mengalami kekurangan makanan akan lebih mudah terkena penyakit, yang dapat menyebar dengan cepat dan menyebabkan kematian massal dalam populasi. Beberapa spesies juga ada yang memiliki kebutuhan habitat yang sangat spesifik.

Kehilangan habitat tertentu yang menyediakan elemen penting seperti tempat berlindung, area bersarang, atau sumber air dapat langsung mengancam kelangsungan hidup mereka. Spesies yang sangat bergantung pada habitat tersebut mungkin tidak dapat bertahan hidup di lingkungan lain (Rehman et al., 2024)

Perubahan iklim memperburuk kondisi habitat yang sudah terdegradasi. Peningkatan suhu global, perubahan pola curah hujan, dan kejadian cuaca ekstrem seperti badai dan kekeringan merusak habitat satwa lebih lanjut. Misalnya, peningkatan suhu dapat mengubah distribusi tumbuhan dan hewan, menyebabkan spesies harus bermigrasi ke daerah yang lebih sejuk atau menghadapi kondisi lingkungan yang tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.

Kerusakan habitat dan perubahan iklim mempersulit adaptasi satwa terhadap lingkungan yang berubah (Hill et al., 2021). Spesies yang memiliki jangkauan habitat terbatas atau kebutuhan habitat yang sangat spesifik lebih rentan terhadap perubahan ini. Satwa yang tidak dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan lingkungan menghadapi risiko kelaparan, penyakit, dan penurunan reproduksi.

Fragmentasi habitat juga mengisolasi populasi, mengurangi keanekaragaman genetik dan kemampuan spesies untuk beradaptasi terhadap tekanan lingkungan baru. Satwa yang terisolasi dan terfragmentasi lebih rentan terhadap kepunahan lokal (Fontúrbel et al., 2021).

Kesimpulan

kerusakan habitat merupakan penyebab utama hilangnya keanekaragaman hayati. Deforestasi dan perubahan penggunaan lahan untuk industri, pertanian, dan perkebunan mengakibatkan hilangnya tempat tinggal dan sumber makanan bagi banyak spesies. Hal ini menyebabkan penurunan populasi, terutama pada spesies yang bergantung pada habitat tertentu.

Selain itu fragmentasi habitat juga semakin memperparah kondisi dengan mengisolasi populasi satwa, mengurangi keanekaragaman genetik, dan meningkatkan risiko penyakit serta kelaparan. Satwa yang tidak dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan ini menghadapi risiko kepunahan. Perubahan iklim juga akan memperburuk kondisi habitat yang sudah terdegradasi, mengganggu pola makan satwa dan memperumit adaptasi mereka.

Dalam menghadapi ancaman ini, penting untuk menjaga dan memulihkan habitat alami serta mengurangi dampak perubahan iklim guna memastikan kelangsungan hidup berbagai spesies. Berbagai cara dapat digunakan dalam menjaga ekosistem seperti melakukan reboisasi hutan, melindungi flora maupun fauna, serta membangun kesadaran lingkungan terhadap pemerintah maupun masyarakat sekitar.

Daftar Pustaka

Fontúrbel, F.E., Nespolo, R.F., Amico, G.C., & Watson, D.M. (2021). Climate change can disrupt ecological interactions in mysterious ways: Using ecological generalists to forecast community-wide effects. Climate Change Ecology, 2, 1-7.

Hill, G.M., Kawahara, A.Y., Daniels, J.C., Bateman, C.C., & Scheffers, B.R. (2021).  Climate change effects on animal ecology: butterflies and moths as a case study. Biological Reviews, 96, 2113–2126.

Junaiddin, N. (2023). Dampak Deeformasi Terhadap Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem. Jurnal Humaniora, 1 (2), 131-140.

Rehman, G., Khattak, I., Hamayun, M., Rahman A., Haseeb, M., Umar, M., Ali, S., Iftikhar, Shams, W.A., & Pervaiz, R. (2024). Impacts of mining on local fauna of wildlife in District Mardan & District Mohmand Khyber Pakhtunkhwa Pakistan. Brazilian Journal of Biology, 84, 1-11.

Setiawan, A. (2022). Keanekaragaman Hayati Indonesia: Masalah dan Upaya Konservasinya. Indonesian Journal of Conservation, 11(1), 13-21.

  • Bagikan