Kisah Haru Dr. Kurnia Saleh, Dari Rp.12 Ribu untuk Membeli Keadilan hingga Meraih Gelar Doktor Ilmu Hukum

  • Bagikan
Dr. Kurnia Saleh berfoto bersama ayah dan ibunya usai meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dalam sidang promosi doktor di Palembang.
Foto : Anggi/ Dr. Kurnia Saleh berfoto bersama ayah dan ibunya usai meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dalam sidang promosi doktor di Palembang.

PRABUMULIH, TOPIKBERITA.CO – Di tengah suasana khidmat sidang promosi doktor, tak ada yang menyangka pidato ilmiah yang disampaikan Dr. Kurnia Saleh, S.H., M.H. akan berubah menjadi sebuah kisah yang mengaduk emosi. Bukan teori hukum yang pertama kali ia sampaikan, melainkan kenangan pahit seorang anak kecil yang pernah mencoba “membeli keadilan” dengan uang tabungan sebesar Rp12 ribu.

Di hadapan para guru besar, dewan penguji, keluarga, dan tamu undangan, Kurnia membawa hadirin kembali ke puluhan tahun silam. Saat itu ia masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar.

Sore itu menjadi salah satu hari yang tak pernah hilang dari ingatannya.

Di depan matanya sendiri, ia menyaksikan sang ibu menjadi korban kekerasan. Perempuan yang paling ia cintai dipukul hingga mengalami memar di dahi dan pelipis mata. Pelaku bukanlah orang asing, melainkan seseorang yang masih memiliki hubungan keluarga.

Anak kecil itu hanya mampu terpaku. Ketika melihat ibunya mencoba mengejar pelaku, langkah perempuan itu akhirnya terhenti. Bukan karena tak sanggup berjalan, tetapi karena terbentur tembok yang jauh lebih kuat dari sekadar tenaga: ketidakberdayaan akibat kondisi sosial dan ekonomi.

Tak ada keberanian membawa perkara itu ke ranah hukum. Tak ada laporan polisi. Yang tersisa hanyalah air mata dan kepasrahan.

Dalam kepolosannya, Kurnia kecil kemudian berlari menuju celengan miliknya. Ia membongkar seluruh tabungan yang terkumpul selama bertahun-tahun. Jumlahnya hanya Rp12 ribu.

Uang itu ia serahkan kepada sang ibu dengan keyakinan sederhana bahwa uang tersebut bisa digunakan untuk mencari keadilan.

Namun kenyataan berkata lain.

“Di dalam kepolosan pikiran saya waktu itu, saya mengira uang Rp12 ribu bisa menjadi modal membeli keadilan. Tetapi dunia ternyata terlalu kejam untuk uang sebesar itu,” kenangnya.

Dr. Kurnia Saleh memaparkan disertasi di hadapan dewan penguji pada sidang promosi Doktor Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang.
Foto : Anggi / Dr. Kurnia Saleh, S.H., M.H. menyampaikan paparan disertasi di hadapan dewan penguji saat sidang promosi Doktor Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya (Unsri), Palembang. Momen tersebut menjadi puncak perjalanan akademiknya setelah menempuh pendidikan doktoral.

Peristiwa tersebut menjadi titik balik yang mengubah jalan hidupnya.

Ibunya adalah seorang perempuan yang tidak pernah mengenyam pendidikan hingga mampu membaca dan menulis. Ayahnya hanyalah seorang buruh harian lepas yang juga tidak menamatkan Sekolah Dasar.

Dari keluarga sederhana itulah lahir sebuah tekad besar.

Kurnia mengaku memilih kuliah di Fakultas Hukum bukan karena mengejar profesi bergengsi ataupun gelar akademik. Ia memilih hukum karena ingin memastikan keluarganya tidak lagi menjadi korban ketidakadilan.

“Hukum saya ambil sebagai perisai untuk melindungi keluarga saya,” ujarnya.

Kini, setelah mempelajari hukum secara mendalam, ia memahami bahwa kemiskinan dan kelemahan ekonomi tidak pernah menjadi alasan untuk menghapus sebuah tindak pidana. Baginya, keadilan seharusnya dapat diakses oleh siapa pun, tanpa memandang status sosial.

Momen paling mengharukan dalam sidang promosi doktor itu terjadi ketika pandangan Kurnia tertuju kepada kedua orang tuanya yang duduk di barisan depan.

Dua sosok sederhana yang tidak pernah menyelesaikan pendidikan dasar itu kini duduk terhormat di hadapan para profesor dan doktor, menyaksikan putra mereka menyandang gelar tertinggi di bidang akademik.

Menurut Kurnia, seluruh kepedihan masa kecilnya seolah terbayar lunas saat melihat senyum kedua orang tuanya.

Ia juga menceritakan bagaimana keluarganya perlahan berhasil mengubah nasib melalui pendidikan. Dari empat bersaudara, dua orang kini menjadi ASN Guru, satu berprofesi sebagai pengacara, sementara adik bungsunya masih menempuh pendidikan di bangku SMP.

“Semuanya dibesarkan oleh orang tua yang bahkan tidak tamat sekolah dasar,” katanya penuh rasa syukur.

Di akhir pidatonya, Kurnia menyampaikan pesan yang menyentuh kepada generasi muda Indonesia.

Menurutnya, tidak ada kondisi ekonomi yang mampu menghalangi seseorang untuk mengubah masa depan selama masih memiliki tekad, kerja keras, serta restu kedua orang tua.

Dr. Kurnia Saleh berfoto bersama seluruh dewan penguji setelah dinyatakan lulus Doktor Ilmu Hukum dengan predikat sangat memuaskan di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang.
Foto : Anggi / Dr. Kurnia Saleh, S.H., M.H. berfoto bersama promotor, ko-promotor, dan seluruh dewan penguji usai dinyatakan lulus dalam sidang promosi Doktor Ilmu Hukum dengan predikat sangat memuaskan di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya (Unsri), Palembang. Momen tersebut menjadi penanda keberhasilan perjalanan akademik yang penuh perjuangan hingga meraih gelar doktor.

Ia mengajak setiap anak bangsa untuk tidak menyerah pada keadaan.

“Mintalah rida kepada ayah dan ibu. Dekap mereka. Ketulusan doa orang tua jauh lebih dari cukup untuk membuat Tuhan memudahkan setiap langkah kita,” pesannya.

Dalam kesempatan itu, Kurnia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para guru besar, dosen pembimbing, keluarga besar di Palembang, sahabat, rekan-rekan kantor hukum, hingga seluruh pihak yang mendampinginya selama menempuh pendidikan doktor.

Ucapan paling istimewa ia tujukan kepada sang istri, Nurmatasia, S.Pd., M.Pd., yang menurutnya selalu percaya pada mimpi-mimpi besar yang nyaris dianggap mustahil oleh banyak orang.

“Alhamdulillah… kita bisa, Umi. Gelar doktor ini adalah milikmu dan bayi kecil kita, Fatihah,” ucapnya.

Menariknya, Kurnia menutup pidatonya bukan dengan kemarahan kepada pelaku kekerasan yang pernah melukai ibunya.

Sebaliknya, ia memilih memaafkan.

Menurutnya, kezaliman yang pernah terjadi justru menjadi jalan yang ditempuh Allah untuk membentuk keteguhan hati sang ibu, yang tak pernah berhenti berdoa demi masa depan anak-anaknya.

Baginya, gelar doktor yang kini melekat di depan namanya bukan sekadar pencapaian akademik.

Lebih dari itu, gelar tersebut adalah jawaban atas doa seorang ibu yang pernah menangis karena tak mampu membeli keadilan.

“Dulu saya kebingungan memegang uang Rp12 ribu untuk membeli keadilan. Hari ini saya pulang kepada kedua orang tua saya dengan membawa kehormatan, membawa keadilan, dan membawa kebahagiaan yang insyaallah tak berujung,” tutup Dr. Kurnia Saleh.

  • Bagikan