PRABUMULIH, TOPIKBERITA.co – Dinas Kesehatan Kota Prabumulih dan manajemen RS AR Bunda tengah melakukan evaluasi menyeluruh terkait dugaan kelalaian terhadap seorang balita yang meninggal dunia setelah menjalani perawatan. Evaluasi dilakukan menyusul laporan keluarga pasien yang menilai pelayanan rumah sakit kurang maksimal.
Kepala Dinas Kesehatan Prabumulih, Djoko Listyano, SKM, menegaskan bahwa seluruh laporan masyarakat, terlebih yang menyangkut keselamatan pasien, harus ditindaklanjuti secara teliti dan terstruktur. Senin, 24 November 2025
“Semua komponen pelayanan, mulai dari alur masuk pasien, tindakan medis, hingga penanganan lanjutan harus kami evaluasi. Data sedang kami kumpulkan secara lengkap agar tidak terjadi kekeliruan kesimpulan. Setelah semua data terkumpul, baru kami sampaikan hasil resminya,” ujar Djoko.
Dinas Kesehatan telah memanggil pihak keluarga dan melakukan wawancara mendalam terkait kronologi serta keluhan yang disampaikan. Setelah itu, tim langsung mendatangi RS AR Bunda untuk melakukan verifikasi dan berkoordinasi dengan tenaga kesehatan yang menangani pasien.
“Kami meminta pihak rumah sakit terbuka dan menyerahkan seluruh data pelayanan, termasuk siapa saja tenaga kesehatan yang menangani dari IGD, ruang rawat inap, hingga rujukan ke Palembang,” jelasnya.
Direktur RS AR Bunda Prabumulih, dr. Herry, menyatakan pihaknya bersikap kooperatif dan menyerahkan seluruh data yang diminta. Ia menegaskan bahwa manajemen rumah sakit menunggu hasil evaluasi dari Dinas Kesehatan.
Kronologi Keluhan Keluarga Pasien
Sebelumnya, keluarga seorang bayi berusia 4 bulan (bukan 4 tahun) melaporkan bahwa pelayanan yang diberikan RS AR Bunda dinilai tidak maksimal.
Ibu bayi, Sumarni (36), mengatakan bahwa pada 6 November 2025, ia membawa anaknya ke IGD RS AR Bunda karena demam tinggi. Setelah mendapat penanganan awal, bayinya kemudian dirawat inap selama enam hari, namun kondisi justru tidak membaik.
Selama masa perawatan, demam sang bayi tidak turun, sementara perut terlihat kembung dan membesar. Sumarni mengaku telah menegur tenaga medis, namun respons yang diterima dianggap tidak optimal.
“Pelayanan yang kami terima tidak maksimal. Wajar kalau kami menduga ada unsur kelalaian,” ungkapnya.
Selain itu, Sumarni menyebut anaknya mengalami kejang sebanyak tiga kali, tetapi tidak segera mendapat penanganan serius.
“Saya disuruh sabar. Anak saya kejang-kejang, saya memeluknya sambil menangis tapi tidak ada tindakan cepat. Baru setelah adik saya marah-marah ada respon. Saat itu anak saya sudah tidak sadar,” tuturnya.
Karena kondisi semakin memburuk, bayi tersebut kemudian dirujuk ke RS Bari Palembang. Setelah menjalani perawatan selama empat hari, bayi itu akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
“Cukup saya yang merasakan ini. Jangan sampai ada kejadian seperti ini lagi. Kami tidak terima dan rumah sakit harus bertanggung jawab,” tegas Sumarni.
Kakak ibu bayi, Kasnadi, juga mengungkapkan hal senada. Ia menyebut keluarga telah menyampaikan laporan ke rumah sakit, namun belum mendapat penjelasan rinci.
“Senin kami laporkan, Rabu mereka cuma bilang kasus masih diselidiki. Tidak ada kejelasan,” ujarnya.
Kasnadi juga menjelaskan bahwa kondisi keponakannya ketika tiba di RS Bari terlihat mengkhawatirkan.
“Kaki dan tangannya biru lebam. Entah karena obat atau apa, kami tidak tahu. Karena itu kami mempertanyakan penanganan selama di RS AR Bunda,” katanya.
Respons RS AR Bunda
Direktur RS AR Bunda Prabumulih, dr. Harry Wahyudi Sp.Rad, MARS, saat dikonfirmasi tidak menampik adanya laporan dan keluhan tersebut.
“Info terkait ini sudah masuk. Saya belum bisa memberi konfirmasi atau penjelasan apa pun sementara ini. Setelah ada hasil follow up akan kami sampaikan,” ujarnya singkat.
Evaluasi Dinkes Ditargetkan Rampung Rabu
Dinas Kesehatan menargetkan hasil evaluasi lengkap akan keluar pada Rabu pekan ini. Jika terbukti ada kelalaian, pihaknya menegaskan akan memberikan sanksi tegas kepada rumah sakit maupun tenaga kesehatan yang bertanggung jawab.
“Jika ada kelalaian, pasti ada sanksi. Jika tidak, kita jadikan ini pembelajaran untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ke depan,” tegas Djoko.




