PHRZ4 Pacu Target Produksi Minyak 30.000 BOPD Tahun 2026, 15 Sumur di Gunung Kemala Berpotensi 1000 BOPD

  • Bagikan
PHR Zona 4 mengembangkan 15 sumur di Struktur Gunung Kemala untuk meningkatkan produksi minyak
Foto : Kepala Perwakilan Migas Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), Bambang Dwi Djanuarto

PRABUMULIH, TOPIKBERITA.co – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 terus melakukan berbagai inovasi untuk meningkatkan produksi minyak dan gas bumi. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan sejumlah struktur yang sebelumnya dinilai memiliki potensi produksi terbatas.

Konsep Trust, Nyaman, dan Inovatif menjadi salah satu semangat yang diterapkan dalam pengembangan lapangan.
Trust berarti membangun rasa saling percaya satu sama lain.

Sementara N dimaknai sebagai nyaman, yakni menciptakan kondisi yang kondusif untuk bekerja. Adapun I berarti inovatif.Penerapan inovasi tersebut terlihat pada pengembangan tiga struktur andalan.

Salah satunya adalah Struktur Gunung Kemala. Sebelumnya, struktur tersebut hanya menghasilkan sekitar 200 barel minyak per hari (BOPD) dan bahkan sempat direncanakan untuk ditutup serta ditinggalkan.

Namun, melalui berbagai inovasi, termasuk pembaruan data seismik 3D dan kajian lainnya, potensi produksi di struktur tersebut kembali ditemukan.

Hasil evaluasi menunjukkan potensi produksi yang jauh lebih besar, bahkan mencapai sekitar 1.000 BOPD per sumur.
Pada tahun 2026 ini, sebanyak 15 sumur sedang dikembangkan di Struktur Gunung Kemala.

Selain Gunung Kemala, struktur lainnya yang menjadi andalan adalah LKT.
Struktur LKT berada di dekat Sele Raya Belida dan sebelumnya belum memiliki fasilitas produksi. Melalui koordinasi dengan SKK Migas Perwakilan Sumbagsel, PHR Zona 4 mendapatkan izin untuk memanfaatkan akses jalan Sele Raya Belida.

Hasilnya cukup signifikan. Salah satu sumur di LKT saat dilakukan pengujian mampu mengalirkan produksi hingga 3.000 BOPD.
Namun, untuk menjaga keberlangsungan produksi dalam jangka panjang atau long life, produksi sumur tersebut saat ini dibatasi sekitar 500 BOPD.

PHR Zona 4 Berkontribusi Hampir 50 Persen Produksi PEP

Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagsel, Bambang Dwi Djanuarto, memberikan apresiasi terhadap kinerja PHR Zona 4.
Menurutnya, kontribusi Zona 4 sangat besar karena menyumbang hampir 50 persen dari keseluruhan produksi Pertamina EP (PEP) di seluruh Indonesia.

“Kalau Zona 4 terganggu, maka PEP ikut terganggu, dan sebaliknya. Zona 4 selalu mencapai target WP&B maupun target APBN, meskipun di awal tahun ada kendala operasi dengan bocornya pipa TGI di awal tahun 2026 lalu yang berdampak terganggunya produksi. Namun kami berharap di akhir tahun ini target produksi bisa terkejar,” kata Bambang.

Bambang menjelaskan, secara keseluruhan produksi migas di wilayah Sumbagsel mampu mencapai lebih dari 90 persen target APBN.

Capaian tersebut sempat tertahan pada awal tahun akibat gangguan pada pipa TGI. Kondisi tersebut membuat Pertamina Hulu Jambi Merang tidak dapat mengirim gas.

Begitu pula PetroChina dan Medco Grissik, sehingga PHR tidak dapat menerima pasokan gas dan produksi kondensat mengalami penurunan drastis.

Di sisi lain, PetroChina saat ini justru mampu mencapai target produksi hingga 235 persen, seiring dengan aktivitas pemboran dan seismik yang terus dilakukan.

Secara keseluruhan, target produksi Sumbagsel berada di kisaran 10-15 persen dari target produksi nasional.

Jika target produksi nasional mencapai sekitar 610.000 BOPD, maka kontribusi Sumbagsel diperkirakan sekitar 67.000-68.000 BOPD untuk minyak bumi dan kondensat, belum termasuk LPG.

Sejumlah Proyek Strategis Sumbagsel

Bambang juga memaparkan perkembangan sejumlah proyek strategis migas di wilayah Sumbagsel.

Untuk Medco, terdapat proyek Sambar dan Sakakemang. Proyek Medco Sakakemang saat ini berada pada tahap pembebasan lahan untuk penggelaran pipa.

Final Investment Decision (FID) telah dilakukan dan terdapat percepatan target onstream menjadi kuartal III 2027, dari target sebelumnya kuartal I 2028.

Proyek tersebut ditargetkan menghasilkan produksi plateau sekitar 80 MMSCFD selama delapan tahun, dengan akumulasi produksi mencapai 474 BSCF.

Rencananya akan dilakukan pengeboran dua sumur pengembangan, yakni existing KBD-2X dan sumur baru KBD-24.
Dalam perkembangannya, terdapat perubahan desain. Sebelumnya, direncanakan pembangunan pipa CO2 berdiameter 10 inci sepanjang 50 kilometer menuju Gelam, sementara produksi air ditransportasikan ke Kukulambar.

Kini desain tersebut berubah menjadi pipa berdiameter 16 inci yang langsung menuju Grissik, sedangkan produksi air akan dialirkan ke sumur existing di North Sambar.

Untuk proyek Carbon Capture and Storage (CCS) injection, terjadi perubahan jadwal dari sebelumnya kuartal I 2028 menjadi kuartal III 2029.

Bagi Medco, prioritas pertama saat ini adalah memperoleh produksi gas, sedangkan CCS injection menjadi prioritas berikutnya.

Kondisi tersebut berbeda ketika proyek masih dipegang Repsol, ketika CCS injection menjadi prioritas utama karena menjadi salah satu persyaratan untuk memperoleh pembiayaan dari pihak luar.

Sementara itu, rencana penyaluran gas juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya sekitar 75 persen gas direncanakan untuk diekspor, kini prioritas diarahkan untuk kebutuhan domestik dan produksi gas tinggal menunggu proses tie-in ke pipa transmisi existing.

Kondisi KKKS Lain di Sumbagsel

Bambang juga menyampaikan perkembangan sejumlah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) lainnya.
Exxon, setelah melakukan perawatan, justru mengalami penurunan produksi sekitar 30.000 BOPD, padahal setelah perawatan diharapkan produksi dapat meningkat.

Sementara itu, Tiara Bumi mengalami kendala pada sumur Sampurna. Sumur tersebut sebelumnya pernah menghasilkan sekitar 500 BOPD bahkan mencapai 1.000 BOPD.

Namun, setelah dilakukan workover, sumur tersebut justru terus mengalami masalah hingga produksinya menjadi nol. Saat ini Tiara Bumi menghentikan produksi karena persoalan investor yang masih berlangsung sehingga belum ada investasi untuk kegiatan pemboran.

Untuk Tropik Energi Pandan, produksi minyak saat ini berada di bawah 100 BOPD dan gas sekitar 1 MMSCFD. Perusahaan tersebut kini mendapatkan investor baru yang akan melakukan workover. Saat ini mereka masih dalam proses mencari rig workover.

Sementara Odira Karang Agung milik PP masih berproduksi. Adapun PP bukan merupakan BUMN migas. Sedangkan KSO Indrillo Hulu Energi, yang sebelumnya sempat mengalami kebakaran, saat ini kondisinya sudah berhasil ditangani.

  • Bagikan