PRABUMULIH, TOPIKBERITA.CO — Di tengah hiruk pikuk kehidupan Kota Nanas, terselip kisah haru tentang perjuangan seorang anak yatim piatu bernama Soni Alfian. Bocah belasan tahun ini kini menjalani perawatan intensif di RS AR Bunda Prabumulih, setelah kondisi kesehatannya menurun akibat penyakit ginjal yang kembali kambuh pada Rabu, 22 Oktober 2025.
Kamar perawatan itu terasa hening. Di atas ranjang putih, tubuh Soni tampak lemah dengan selang infus terpasang di tangannya. Sesekali, ia menatap perawat yang datang menyapanya dan tersenyum. Senyum kecil yang mungkin sederhana, namun menyiratkan semangat luar biasa untuk bertahan.
Menurut pihak rumah sakit, Soni harus menjalani rawat inap setelah tim medis mendeteksi tanda-tanda kekambuhan penyakit ginjal yang telah lama dideritanya.
“Kondisinya sempat mengkhawatirkan. Kami tidak ingin mengambil risiko, sehingga diputuskan untuk opname agar bisa dipantau secara intensif,” jelas Martini, Kasi Humas Pemasaran RS AR Bunda Prabumulih.
Kini, di bawah pengawasan dokter dan tenaga medis, kondisi Soni berangsur membaik.
“Alhamdulillah, sudah menunjukkan perkembangan positif. Wajahnya tidak pucat lagi,” tambah Martini dengan nada lega.
Namun di balik lembar hasil laboratorium dan grafik tekanan darah, kisah hidup Soni jauh lebih menyentuh. Ia bukan sekadar pasien ia adalah simbol ketegaran di tengah keterbatasan.
Anak kedua dari empat bersaudara ini kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil. Sejak itu, kehidupannya bergantung pada kasih sayang sang nenek yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Setiap pagi, sang nenek berangkat bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara Soni dan adik-adiknya belajar mandiri di rumah kontrakan sederhana di kawasan Prabumulih.
“Kalau nenek belum pulang, mereka biasanya masak mi instan sendiri,” ujar salah satu tetangga, mengenang keseharian bocah tersebut.
Keterbatasan ekonomi membuat Soni harus berhenti sekolah. Meski demikian, semangatnya untuk hidup dan membantu adik-adiknya tidak pernah surut. Bahkan di tengah sakit, ia masih berusaha tersenyum, seolah ingin menunjukkan bahwa ia belum menyerah.
Kisah perjuangan Soni sebelumnya sempat menarik perhatian publik. Banyak warga Prabumulih yang menunjukkan kepedulian dan turut menggalang bantuan. Namun perhatian paling besar datang dari pihak RS AR Bunda Prabumulih.
Pimpinan rumah sakit, dr. H. Abdul Rachman, Sp.OG, MM, dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap pasien-pasien kurang mampu.
“Ibu dokter sendiri yang akan membantu biaya pengobatan Soni,” ungkap Martini.
Bentuk kepedulian tersebut bukan sebatas ucapan. Selama menjalani perawatan, Soni mendapatkan pelayanan penuh kasih dari seluruh tim medis. Suatu bukti bahwa nilai kemanusiaan masih hidup di tengah dunia yang sering kali lebih sibuk mengejar materi.
Kini, ketika kondisinya mulai membaik, Soni kembali menatap masa depan dengan harapan baru. Meski jalan kesembuhannya belum tuntas, dukungan yang mengalir dari berbagai pihak membuat langkahnya terasa lebih ringan.
Di balik diamnya di ranjang rumah sakit, mungkin Soni sedang bermimpi tentang kesembuhan, tentang bisa bersekolah lagi, dan tentang masa depan yang lebih baik.
Dari Kota Prabumulih, kisah ini menjadi pengingat sederhana bahwa di tengah kesulitan, selalu ada tangan-tangan yang menguatkan dan harapan yang tidak pernah benar-benar padam.
