PRABUMULIH, TOPIKBERITA.CO – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Prabumulih tengah menghadapi berbagai persoalan serius yang mencoreng citra pelayanan kesehatan di kota ini. Masalah mulai dari lemahnya pengawasan keamanan hingga tunggakan pembayaran jasa tenaga kesehatan (nakes) menjadi sorotan utama publik. Sabtu, 5 Juli 2025.
Sejumlah tenaga medis mengeluhkan keterlambatan pembayaran jasa yang seharusnya mereka terima secara rutin setiap bulan. Mereka berharap Direktur RSUD Prabumulih, drg. Sriwidiastuti, segera mengambil langkah konkret.
“Kami hanya ingin hak kami dibayarkan tepat waktu,” keluh salah satu pegawai RSUD yang enggan disebutkan namanya.
Tak hanya soal hak nakes, persoalan lain yang mencuat adalah lemahnya sistem keamanan di area rawat inap. Dalam beberapa bulan terakhir, terjadi beberapa kasus kehilangan barang milik pasien dan keluarganya, yang menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.
Salah satu korban, Sudarto, mengaku kehilangan dua unit handphone dan uang tunai sebesar Rp800 ribu saat menemani keluarganya di ruang kelas III.
“Kami sudah lapor ke polisi, tapi yang kami harap rumah sakit ikut bertanggung jawab. Sudah sakit, malah kehilangan barang juga,” ungkapnya kecewa.

Kasus tersebut kini tengah ditangani oleh pihak Polsek Prabumulih Timur. Namun, dari pihak rumah sakit, Direktur RSUD menjelaskan bahwa keterbatasan sumber daya dan kondisi lingkungan turut mempengaruhi lemahnya sistem pengawasan.
“RSUD terus berusaha dengan keterbatasan orang jadi kondisi lapangan di belakang yang memang sulit. Mengenai ganti rugi RSUD kan tetap menitipkan pasien untuk dirawat selamat kesehatannya juga jiwanya kalau barang kita maksimal semua dan pegawai serta keluarga pasien harus menjaga barang berharga yang dibawa sendiri” jelas drg. Sriwidiastuti melalui pesan WhatsApp belum lama ini.
Menurutnya, dengan jumlah karyawan sekitar 700 orang, ratusan pasien per hari, serta banyaknya pengunjung, pengawasan tidak dapat dilakukan secara optimal di semua titik.
Sementara itu, terkait keterlambatan pembayaran jasa nakes, Sriwidiastuti mengakui bahwa pengelolaan keuangan RSUD yang berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) saat ini tengah mengalami ketimpangan. Beban operasional meningkat tajam karena banyaknya layanan medis yang diberikan, bahkan melebihi kapasitas rumah sakit tipe C.
“Kami harus menangani layanan cuci darah, ICU, operasi ortopedi, jantung hingga Unit Transfusi Darah, yang idealnya dilayani oleh rumah sakit tipe B,” ungkapnya.
Kondisi ini membuat pengeluaran rumah sakit membengkak, sementara pemasukan belum mampu menutupi seluruh kebutuhan, termasuk pembayaran jasa nakes.
Masalah-masalah ini menjadi tantangan besar bagi Pemerintah Kota Prabumulih dan manajemen RSUD untuk segera melakukan pembenahan. Diperlukan langkah strategis dalam meningkatkan efisiensi pengelolaan keuangan, memperkuat sistem keamanan, serta menjamin kesejahteraan tenaga kesehatan demi tercapainya pelayanan publik yang lebih baik.




