Penyebab Kepunahan Hewan Lindung di Kawasan Pulau Sumatera

  • Bagikan
Foto : Esi Oktariani / penyebab Kepunahan hewan lindung di pulau sumatera

KARYA ILMIAH, TOPIKBERITA.CO –Pemerintah Indonesia mengklasifikasikan satwa liar menjadi dua kelompok yaitu tidak dilindungi dan dilindungi, juga dikenal sebagai spesies langka. Klasifikasi ini didasarkan pada tingkat kepunahan yang dihadapi oleh setiap spesies. Indonesia diakui sebagai negara yang memelihara daftar satwa liar yang terancam punah. Saat ini, ada 70 spesies mamalia, 93 spesies burung, 28 spesies reptil, 19 spesies serangga, 7 spesies ikan, dan 28 spesies invertebrata yang terancam punah.

Kekayaan alam Indonesia terdiri dari berbagai satwa liar yang tersebar di seluruh pulau-pulaunya. Diperkirakan 300.000 spesies satwa liar, sekitar 17% dari total global, ditemukan di Indonesia, meskipun daratan negara itu hanya mencakup 1,3% dari luas daratan global. Indonesia memimpin dalam keanekaragaman mamalia dengan 515 spesies dan menyediakan habitat bagi lebih dari 1.539 spesies burung, dengan 45% populasi ikan dunia berada di perairan Indonesia. Indonesia juga merupakan rumah bagi spesies endemik yang hanya ditemukan di negara ini, termasuk 259 spesies mamalia endemik, 384 spesies burung, dan 173 spesies amfibi (Serunting dkk, 2023)

Meskipun demikian, keanekaragaman hayati yang berharga terancam punah karena campur tangan manusia. Keanekaragaman tersebut meliputi tumbuhan dan satwa liar di lingkungan alaminya. Satwa liar mencakup spesies langka, dilindungi, dan umum. Spesies langka adalah spesies yang terancam punah dengan populasi kecil yang memerlukan perlindungan.

Spesies langka ini ditemukan di beberapa wilayah di dunia, termasuk Indonesia, yang merupakan rumah bagi spesies langka seperti harimau sumatera, badak sumatera, orangutan, kera hitam sulawesi, anoa, dan gajah sumatera. Ancaman kepunahan spesies ini di Indonesia disebabkan oleh rusaknya habitat, perburuan liar, dan perdagangan ilegal.

Deforestasi yang terus berlanjut memainkan peran penting dalam kelangsungan hidup satwa liar di Indonesia, karena hutan adalah habitat utama mereka. Perdagangan ilegal satwa liar melibatkan penjualan tanpa izin dan melanggar hukum yang telah ditetapkan. Kegiatan yang meliputi penjualan organ tubuh hewan yang dilindungi ini masih terus terjadi di pasar hewan, tempat pencarian organ tubuh untuk pengobatan obat tradisional, didorong oleh tingginya permintaan konsumen. Praktik ilegal ini mengganggu keseimbangan alam dalam ekosistem.

Pulau Sumatera Selatan, yang terkenal dengan keanekaragaman hayatinya yang kaya, saat ini tengah menghadapi tekanan serius dari berbagai aktivitas manusia yang merusak habitat alaminya. Data terkini menunjukkan adanya penurunan signifikan jumlah spesies langka seperti Harimau Sumatera, Gajah Sumatera, dan Badak Sumatera. Selain itu, musim kemarau yang sering kali disertai kebakaran hutan dan lahan, semakin memperburuk situasi satwa liar di wilayah tersebut.

Kawasan Pulau Sumatra, yang merupakan salah satu surga keanekaragaman hayati di Indonesia, semakin mengkhawatirkan dengan adanya penangkapan hewan- hewan dilindungi. Fenomena ini tidak hanya mengancam keberadaan satwa liar yang semakin langka, tetapi juga memberikan dampak serius terhadap ekosistem alaminya. Tindakan penangkapan hewan dilindungi ini telah menyebabkan penurunan populasi yang signifikan dari berbagai spesies langka seperti Harimau Sumatra, Gajah Sumatra, dan Badak Sumatera (ita mawaddah,2023).

Pembahasan

Keberadaan hewan yang diselamatkan akan semakin sulit dideteksi di habitat alaminya. Banyak habitat hewan yang diselamatkan dari kerusakan atau kesengajaan karena tindakan kelompok manusia yang tidak bertanggung jawab. Perubahan utama terhadap konservasi spesies ini yang disediakan oleh kegiatan kemanusiaan, terutama ketika mereka menyadari transformasi lahan hutan untuk pertanian, pertambangan, perluasan wilayah perkotaan, migrasi penduduk dan pembangunan infrastruktur, serta pengembangan sumber daya manusia hewan penyelamat. Jika hal ini terjadi dan penggundulan hutan terus berlanjut, perubahan kepunahan yang telah terjadi saat ini akan menjadi suatu kenyataan yang tidak bisa dihindari (wulan dkk, 2020).

Hilangnya hewan di Pulau Sumatera adalah isu mendesak yang membutuhkan perhatian serius. Mereka menghadapi berbagai ancaman di habitat alaminya yang mengancam kelangsungan hidup mereka.

Penyebab utama dari kepunahan hewan- hewan ini adalah deforestasi untuk proyek pembangunan, perluasan perkebunan, dan perburuan ilegal yang merajalela. Situasi ini semakin diperparah oleh kebakaran hutan yang sering terjadi selama musim kemarau, yang menyebabkan penurunan populasi hewan liar.Untuk menjaga keberagaman hayati Pulau Sumatera, sangat penting untuk menyelidiki akar penyebab kepunahan hewan di wilayah tersebut.

Keberadaan satwa dilindungi ini memegang peranan yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan alam dan ekosistem di Pulau Sumatera. Akan tetapi, maraknya aktivitas penangkapan ikan secara ilegal tidak hanya merugikan populasi satwa tersebut, tetapi juga berdampak buruk terhadap berbagai aspek kehidupan di sekitarnya.

Perusakan habitat, menurunnya keanekaragaman hayati, serta ketidak seimbangan ekosistem merupakan beberapa dampak negatif yang mungkin terjadi akibat penangkapan satwa dilindungi di wilayah Pulau Sumatera (Amri dkk,2020)

Perdagangan satwa dilindungi secara ilegal di Kepulauan Sumatera merupakan ancaman serius bagi keberlangsungan hidup spesies tersebut. Praktik ini tidak hanya merugikan satwa yang menjadi korban langsung perburuan liar, tetapi juga berpotensi merusak rantai makanan dan keseimbangan ekosistem di pulau tersebut.

Penangkapan dan perdagangan satwa dilindungi juga dapat menyebabkan penurunan populasi yang signifikan bahkan kepunahan spesies tertentu. Selain itu, penjualan satwa dilindungi secara ilegal juga mencerminkan lemahnya penegakan hukum dan pengawasan perdagangan satwa liar di Kepulauan Sumatera. Minimnya kesadaran akan pentingnya konservasi dan perlindungan satwa dilindungi juga menjadi faktor yang memperburuk keadaan ini.

Dampak dari penjualan satwa dilindungi secara ilegal tidak hanya berdampak pada keberlanjutan ekosistem, tetapi juga pada citra pariwisata dan keberlanjutan ekonomi lokal di Kepulauan Sumatera. Praktik ilegal ini dapat mengurangi daya tarik wisatawan dan mengurangi potensi pendapatan dari sektor pariwisata berkelanjutan (Hafizah dkk, 2024)

Kasus illegal yang dilindungi oleh spesies tertentu di pulau-pulau di Sumatra merupakan amenaza yang serius bagi pengawasan spesies ini. Tindakan terlarang ini tidak dilakukan sendirian oleh hewan yang berada di bawah sinar matahari langsung, tetapi juga dapat memiliki kesadaran yang signifikan terhadap ekosistem dan keseimbangan alam wilayah tersebut.

Salah satu dampak utama dari perlindungan spesies lainnya adalah pengurangan dampak buruknya. Dengan adanya permintaan di pasar produk hewan yang diperoleh dari ancaman kepunahan, hal-hal ilegal tersebut akan dikonversi ke dalam suatu kegiatan yang dilakukan dengan cara melakukan pengawasan terhadap spesies tersebut. Penangkapan yang berlebihan tanpa pengawasan dan pengawasan dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah hewan yang dilindungi di Kepulauan Sumatra.

Dengan demikian, ini juga dapat mengubah jumlah makanan dan ekosistem secara keseluruhan. Ketika ciertos depredadores atau presas naturales son cazados, hal ini dapat mengganggu keseimbangan alam dan kadang-kadang menimbulkan dampak yang tidak diharapkan pada ekosistem local . Hal ini juga dapat memicu penyebaran penyakit dan membuat ekosistem menjadi lebih rentan terhadap gangguan eksternal.

Dampak dari penangkapan hewan lindung di kawasan Pulau Sumatra tidak hanya terbatas pada ancaman terhadap kelangsungan hidup spesies-spesies tersebut, tetapi juga dapat membawa risiko penyebaran penyakit. Praktik penangkapan hewan- hewan lindung seringkali melibatkan penanganan yang tidak higienis dan kontak langsung antara manusia dan hewan-hewan liar, yang dapat menjadi jalur penularan penyakit zoonotik. Penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya dapat mengancam kesehatan dan keberlangsungan ekosistem di Pulau Sumatra.

Dalam kondisi di mana hewan-hewan lindung telah terpapar penyakit akibat penangkapan dan perdagangan ilegal, mereka dapat menjadi reservoir penyakit yang berpotensi menularkan patogen ke manusia atau hewan lainnya. Selain itu, perburuan dan penangkapan hewan lindung juga dapat mengganggu keseimbangan alamiah populasi hewan, yang pada gilirannya dapat memicu penyebaran penyakit di antara populasi hewan tersebut. Dengan mengurangi jumlah individu dalam populasi dan merusak struktur sosial hewan, praktik penangkapan ini dapat memperbesar risiko penyebaran penyakit di antara hewan-hewan tersebut.

Kesimpulan

Kepunahan satwa dilindungi di Pulau Sumatera merupakan akibat dari berbagai faktor seperti deforestasi, perburuan ilegal, perdagangan, dan kebakaran hutan. Penangkapan hewan-hewan ini memiliki dampak negatif yang signifikan pada ekosistemnya, membahayakan spesies langka seperti Harimau Sumatera, Gajah Sumatera, dan Badak Sumatera. Sangat penting untuk fokus pada upaya konservasi dan melindungi hewan-hewan ini untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan keseimbangan alami ekosistem. Langkah-langkah segera dan efektif harus diambil untuk memastikan keberadaan satwa liar ini yang terus berkembang di lingkungan asli mereka.

Daftar pustaka

Amri, K., Suman, A., & Umar, C. (2020). Status Kawasan Konservasi Perikanan Perairan Umum Daratan Di Beberapa Lokasi Pulau Sumatera. Bawal Widya Riset Perikanan Tangkap, 2(5), 199-208.

Serunting, Y. R., Halim, B., & Patriansah, M. (2023). Perancangan Kampanye Sosial Satwa Liar Yang Terancam Punah Di Sumatera Selatan. Besaung: Jurnal Seni Desain dan Budaya, 8(1).

Wulan, F. (2024). Keberadaan Distribusi Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae Pocock, 1929) Di Lansekap Batang Hari Kabupaten Solok Selatan (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat).

ITA MAWADDAH, I. T. A. (2023). Peran World Wildlife Fund Dalam Mengatasi Perdagangan Ilegal Harimau Sumatera Di Indonesia (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS SULAWESI BARAT).

Hafiza, L., & Natadiningrat, R. B. S. (2024). Ragam Hias Hewan Dilindungi Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Grafis Teknik Linocut Pada Media T- SHIRT. Cendikia: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, 2(10), 107-124.

 

  • Bagikan