Dampak Deforestasi Terhadap Populasi Primata

  • Bagikan
Foto : Selfi Marisa Agustin / Dampak Deforestasi Terhadap Populasi Primata

KARYA ILMIAH, TOPIKBERITA.CO – Salah satu masalah lingkungan yang semakin meningkat di dunia saat ini adalah deforestasi, terutama di negara-negara tropis seperti Indonesia. Deforestasi adalah kerusakan dan alih fungsi hutan dari tempat yang seharusnya menjadi paru-paru dunia kini menjadi lahan konvensional.

Deforestasi berdampak besar pada ekosistem dan keanekaragaman hayati, terutama pada populasi primata. Akibat aktivitas manusia seperti pembukaan lahan untuk pertanian, penebangan liar, dan pengembangan infrastruktur yang menyebabkan habitat utama bagi banyak spesies primata telah menurun drastis. Proses ini mengubah perilaku dan struktur sosial primata serta mengancam habitat alami mereka.

Primata adalah mamalia yang menjadi anggota ordo biologi Primates. Primates berasal dari bahasa latin yang berarti pertama. Seluruh primata memiliki lima jari, bentuk gigi yang sama, dan rancangan tubuh primitif. Indonesia adalah negara yang kaya akan berbagai jenis satwa liar, salah satunya adalah Primata. Dari sekitar 195 jenis primata yang ada, 40 jenis ditemukan di Indonesia, dan 24 jenis diantaranya merupakan satwa endemik yang hanya hidup di Indonesia (Azwir, dkk., 2021).

Berbagai jenis primata termasuk monyet, lemur, dan simpanse memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Namun demikian, deforestasi yang secara besar-besaran dapat menyebabkan populasi ekologi primata berkurang dan mengganggu fungsinya. Hal ini mengakibatkan kurangnya angka kelahiran dan meningkatnya angka kematian. Hilangnya habitat primata di hutan memaksa primata untuk hidup di habitat yang terfragmentasi.

Fragmentasi hutan dapat memisahkan populasi primata di tempat yang berbeda antara satu sama lain. Fragmentasi ini mengurangi interaksi genetik antar kelompok yang dapat membahayakan kesehatan dan daya tahan populasi.

Penurunan populasi primata menjadi lebih buruk karena primata yang terlindungi lebih rentan terhadap predator dan penyakit serta kesulitan menemukan pasangan untuk berkembang biak.

Selain itu, deforestasi juga menyebabkan perubahan iklim. Hutan memiliki peran mengontrol lokal dan menyimpan karbon. Ketika hutan ditebang, karbon yang terperangkap terlepas ke atmosfer yang menyebabkan kenaikan suhu dan perubahan pola cuaca. Akan menjadi tantangan bagi primata yang hidup pada lingkungan stabil dengan perubahan iklim ini.

Deforestasi juga memungkinkan aktivitas yang melanggar hukum, seperti perburuan dan perdagangan satwa liar. Dari perburuan dan hilangnya habitat menyebabkan populasi primata menurun, berarti spesies yang sudah terancam punah berisiko kepunahan total. Spesies tersebut tidak hanya mengalami kerugian, tetapi juga mengganggu keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.

Pembahasan

Deforestasi merupakan proses penghilangan hutan secara besar-besaran (Jainuddin, 2023). Aktivitas manusia mengubah ekosistem alami menjadi area darat yang mengalami perubahan nyata sehingga mengancam keberlangsungan spesies. Di wilayah tropis, deforestasi memiliki konsekuensi yang sangat signifikan, di mana kurang dari 50% hutan yang tersisa.

Semakin banyak deforestasi, semakin mengurangi jarak penyebaran spesies primata hutan di wilayah dengan habitat yang tersisa lebih sedikit. Perubahan tata guna lahan juga menyebabkan fragmentasi hutan. Primata memiliki peran penting dalam fungsi ekosistem, bertindak sebagai herbivora, penyebar benih, penyerbuk, pemangsa dan mangsa, dan bahkan perekayasa ekosistem.

Namun karena sebagian besar primata hidup di hutan, konversi habitat yang disebabkan oleh pertanian dan ekstraksi sumber daya merupakan ancaman utama bagi spesies primata. Konversi hutan membatasi distribusi dan kelimpahan mereka.  Hilangnya spesies primata kemungkinan besar akan berdampak negatif jangka panjang terhadap keragaman tanaman, regenerasi hutan, dan ketahanan ekosistem (Galán-Acedo, et al., 2021).

Adapun dampak deforestasi terhadap populasi primata, beberapa diantaranya sebagai berikut.

1. Kehilangan habitat dan kepunahan spesies.

Spesies primata dapat mengalami kehilangan tempat berlindung, sumber makanan, dan tempat untuk berkembang biak. Dengan berkurangnya luas habitat alami, spesies primata dapat terancam kepunahan karena tidak memiliki kondisi hidup yang tepat (Jainuddin, 2023).

Deforestasi secara signifikan mengancam spesies yang bergantung pada hutan sebagai tempat tinggalnya. Tanpa Habitat yang sesuai dapat membuat spesies-spesies ini rentan terhadap penurunan populasi dan bahkan kepunahan (Duenas, et al., 2021).

2. Fragementasi habitat.

Hutan adalah sumber daya alam yang sangat penting untuk mengatur tata air, mencegah banjir dan erosi, menjaga kesuburan tanah, dan melestarikan lingkungan hidup. Selain itu, sebagai habitat yang lebih luas, hutan memiliki berbagai dampak positif terhadap bumi. Hutan memiliki fungsi utama yaitu sebagai tempat resapan air, paru-paru dunia, dan wadah kebutuhan primer (Fitriandhini & Putra, 2022).

Fragmentasi habitat adalah fenomena di mana hutan atau ekosistem alami terpotong menjadi bagian yang lebih kecil akibat deforestasi atau perkembangan manusia. Akibatnya, terbentuklah habitat “pulau-pulau” yang terisolasi dapat berdampak negatif pada populasi spesies dan interaksi ekologis (Jainuddin, 2023).

Fragmentasi habitat juga berdampak pada populasi primata karena dapat menyebabkan persaingan ketat di antara individu dalam populasi untuk mendapatkan sumber daya seperti makanan, udara, dan tempat berlindung. Primata yang hidup di habitat yang terfragmentasi dapat menghambat pertukaran genetik antar populasi dan meningkatkan risiko inbreeding (perkawinan sedarah), serta fragmentasi habitat yang kecil dapat meningkatkan risiko penyakit pada spesies primata.

3. Perburuan primata dan penularan penyakit.

Primata menjadi lebih mudah ditemukan dan ditangkap ketika hutan ditebang. Habitat primata yang terfragmentasi membuat mereka lebih rentan terhadap perburuan. Perburuan yang semakin intensif dapat dipicu oleh peningkatan permintaan terhadap produk hewan, seperti daging, bulu, dan hewan peliharaan eksotis. Deforestasi memungkinkan pemburu menemukan wilayah baru.

Selain itu, proses perburuan primata (bushmeat hunting) juga berpotensi menyebarkan penyakit zoonosis. Perbedaan aktivitas pada proses perdagangan daging hewan memiliki tingkat resiko infeksi yang berbeda pula. Aktivitas perburuan yang meliputi pelacakan, penangkapan, terkadang penyembelihan di lokasi, dan transportasi karkas melibatkan kontak dengan vektor yang berpotensi menginfeksi, meskipun konsumen akhir yang tidak terlibat pada proses perburuan mungkin saja tidak terpapar.

Resiko akan lebih tinggi jika hewan yang disembelih adalah non human primate (sekelompok mamalia yang terdiri dari simian dan prosimia) karena hewan tersebut memiliki kedekatan filogenik dengan manusia sehingga transmisi penyakit lebih mudah terjadi (Dewi, 2020).

4. Perubahan Iklim

Hutan dapat berkontribusi terhadap perubahan iklim karena hutan dapat menyerap karbon di udara sekitar dan menyebabkan pemanasan global (Zulfaeda, dkk., 2024). Perubahan iklim adalah salah satu dampak besar dari deforestasi, yang berdampak pada skala global.

Hutan memiliki peran penting sebagai penyerap karbon alami, membantu menjaga keseimbangan karbon di atmosfer. Namun, deforestasi merusak fungsi ini karena pohon-pohon yang sebelumnya menyerap karbon dari atmosfer dihilangkan. Hal ini menyebabkan pelepasan karbon ke atmosfer ketika pohon-pohon tersebut terdekomposisi atau dibakar yang meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca dan perubahan iklim global (Jainuddin, 2023). Jika terjadi perubahan iklim maka akan menyebabkan perubahan pola curah hujan yang berdampak pada ketersediaan makanan bagi primata.

Kesimpulan

Deforestasi adalah kerusakan dan alih fungsi hutan dari tempat yang menjadi paru-paru dunia kini menjadi lahan konvensional. Deforestasi merupakan proses penghilangan hutan secara besar-besaran. Akibat aktivitas manusia yang digunakan untuk kepribadian mereka, membuat keberlangsungan spesies primata terancam. Primata merupakan hewan yang berpengaruh pada ekosistem.

Primata dapat bertindak sebagai herbivora, penyebar benih, penyerbuk, dan bahkan perekayasa ekosistem. Jika primata mengalami kepunahan ini dapat berdampak negatif pada ketahanan ekosistem alami. Dampak deforestasi terhadap populasi primata yaitu kehilangan habitat dan kepunahan spesies, menyebabkan fragmentasi habitat atau fenomena di mana hutan dan ekosistem alami terpotong menjadi bagian yang lebih kecil, terjadinya perburuan primata dan penularan penyakit, dan dapat menyebabkan perubahan iklim yang di mana hal ini dapat berdampak pada ketersediaan makanan bagi primata.

DAFTAR PUSTAKA

Duenas, M.-A., Hemming, D. J., Roberts, A., & Diaz-Soltero, H. (2021). The Threat of Invasive Species to IUCN-listed Critically Endangered Species: A Systematic Review. Global Ecology and Conservation, 26: e01476.

Azwir, Jalaluddin, & Faisal , S. (2021). Observasi Perilaku Harian Primata Monyet Ekor Panjang (Mascaca fascicularis) Berdasarkan Etno Ekologi di Kawasan Gunung Geurutee Kabupaten Aceh Jaya. Jurnal Biology Education, 9(1), 8-16.

Dewi, W. K. (2020). Korelasi Antara Aktivitas Deforestasi dan Perburuan Hewan Liar Terhadap Wabah Penyakit Zoonis. Prosiding Seminar Nasional Kedokteran Hewan dan Call of Paper, 57-62.

Fitriandhini, D., & Putra, A. (2022). Dampak Kerusakan Ekosistem Hutan Oleh Aktivitas Manusia: Tinjauan Terhadap Keseimbangan Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati. Jurnal Kependudukan dan Pembangunan Lingkungan , 3(3), 217-226.

Galán-Acedo, C., Spaan, D., Bicca-Marques, J. C., de Azevedo, R. B., Villalobos, F., & Rosete-Vergés, F. (2021). Regional Deforestation Drives The Impact Of Forest Cover And Matrix Quality On Primate Species Richness. Biological Conservation, 263: 109338.

Jainuddin, N. (2023). Dampak Deforestasi Terhadap Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem. Humanitis: Jurnal Humaniora, Sosial, dan Bisnis, 1(2), 131-140.

Zulfaeda, A., Efendi, M., & Purwati, N. (2024). Hubungan Fenomena Deforestasi dengan Penurunan Populasi Rusa Timor (Cervus timorensis) dan Pentingnya Pendidikan Konservasi Bagi Masyarakat di Pulau Lombok. Bioscientist : Jurnal Ilmiah Biologi, 12(1), 1226-1240.

  • Bagikan